Search

Senin, 08 Februari 2016

Mengenal Qos Class Identifier (QCI) LTE

QCI pada LTE ini adalah mekanisme yang ditetapkan oleh 3GPP untuk memastikan traffic bearer teralokasikan dengan baik sesuai QoS (Quality of Service). Setiap bearer traffic yang berbeda membutuhkan QoS yang berbeda pula, dan oleh karena itu membutuhkan nilai QCI yang berbeda juga (dapat dilihat dari tabel di bawah ini).
QCI bernilai 1 sampai 9 dengan masing-masing prioritas, prioritas yang lebih tinggi diutamakan dalam alokasi traffic bearer. Priority 0.5 adalah level yang paling tinggi. Jika congestion terjadi maka priority yang lebih rendah yang traffiknya akan dihilangkan terlebih dahulu.
QCI-65, QCI-66, QCI-69 and QCI-70 diperkenalkan dalam 3GPP TS 23.203 Rel-12
QCIResource TypePriorityPacket Delay BudgetPacket Error LossExample Services
1GBR2100ms10−2Conversational Voice
2GBR4150ms10−3Conversational Video
3GBR350ms10−3Real Time Gaming
4GBR5300ms10−6Non-Conversational Video (Buffered Streaming)
65GBR0.775ms10−2Mission Critical user plane Push To Talk voice (e.g., MCPTT)
66GBR2100ms10−2Non-Mission-Critical user plane Push To Talk voice
5non-GBR1100ms10−6IMS Signalling
6non-GBR6300ms10−6Video (Buffered Streaming) TCP-Based (for example, www, email, chat, ftp, p2p and the like)
7non-GBR7100ms10−3Voice, Video (Live Streaming), Interactive Gaming
8non-GBR8300ms10−6Video (Buffered Streaming) TCP-Based (for example, www, email, chat, ftp, p2p and the like)
9non-GBR9300ms10−6Video (Buffered Streaming) TCP-Based (for example, www, email, chat, ftp, p2p and the like)
69non-GBR0.560ms10−6Mission Critical delay sensitive signalling (e.g., MC-PTT signalling)
70non-GBR5.5200ms10−6Mission Critical Data (e.g. example services are the same as QCI 6/8/9)

catatan : QCI dengan CQI berbeda, CQI adalah Channel Quality Indicator yang bernilai dari 1 sampai 15 yang merepresentasikan modulasi yang didapatkan oleh UE (user equipment) seperti QPSK, 16 QAM, 64 QAM.


CQI
Modulation
Bits/Symbol
REs/PRB
N_RB
MCS
TBS
Code Rate
1
QPSK
2
138
20
0
536
0.101449
2
QPSK
2
138
20
0
536
0.101449
3
QPSK
2
138
20
2
872
0.162319
4
QPSK
2
138
20
5
1736
0.318841
5
QPSK
2
138
20
7
2417
0.442210
6
QPSK
2
138
20
9
3112
0.568116
7
16QAM
4
138
20
12
4008
0.365217
8
16QAM
4
138
20
14
5160
0.469565
9
16QAM
4
138
20
16
6200
0.563768
10
64QAM
6
138
20
20
7992
0.484058
11
64QAM
6
138
20
23
9912
0.600000
12
64QAM
6
138
20
25
11448
0.692754
13
64QAM
6
138
20
27
12576
0.760870
14
64QAM
6
138
20
28
14688
0.888406
15
64QAM
6
138
20
28
14688
0.888406

Jumat, 27 November 2015

Identifikasi Masalah Uplink Throughput LTE

Pernahkan anda suatu ketika menemukan throughput uplink LTE yang aneh tidak seperti biasanya di suatu site?Aneh yang dimaksud adalah jauh di bawah biasanya yang pernah didapatkan pada site-site lainnya, padahal kondisi radionya seperti RSRP, CINR, CQI sudah bagus, namun MCS yang peroleh selalu mentok di QPSK yang menyebabkan kita tidak bisa mendapatkan UL Throughput yang tinggi.
Kira-kira apa penyebabnya?

Mari kita sama-sama menganalisis masalah UL ini...

1. Lakukan cek parameter BTS yang ada site (enode B) tersebut, apakah semuanya sudah sesuai standar? apakah ada yang perbedaan yang significant dengan parameter site lainnya.
2. Cek apakah ada Interference pada UL dengan  meminta report RSSI, cell yang mempunyai interference pada UL memiliki RSSI di bawah -105 dbm misalnya. (di bawah -105 itu = -106,-107,-110 ,-120 dst ya jangan kebalik).
3.  Cek Parameter P0-nominalPUCCH dan P0-nominalPUSCH , bandingkan dengan site lainnya.
4. Cek nilai BLER sebaiknya tidak lebih dari 10%, bila tinggi maka itu menandakan keadaan RF (kondisi radio) yang buruk., atau bisa juga karena bad coverage ada holes.
5. Lihat demand RRC connection yang ada, apakah sangat rendah atau normal?
  1. Maximum number of RRC connections supported per cell (parameter or feature)
  2. Maximum number of RRC connections active per cell
  3. Average number of RRC connections active per cell
  4. Maximum number of users per TTI supported per cell (parameter or feature)
  5. Maximum number of users scheduled per TTI in the cell(s) of interest
  6. Average number users scheduled per TTI in the cell(s) of interest
Jika max number of RRC connection active per cell mendekati atau sama dengan max number of RRC connection supported maka penyebab throughput rendah adalah load nya

6. Cek tipe scheduler yang dipakai seperti round robin, proportional fair, maximum C/I, dll samakan saja dengan site lain di sekitarnya. Scheduler yang tidak cocok dengan site dapat menyebabkan throughput yang buruk.
7. Cek power headroom yang UE gunakan di jaringan, bila nilainya rendah berarti UE tidak cukup power untuk transmit di sisi uplink dan oleh sebab itu throughputnya rendah. Nilai rendah dari power headroom berkisar 5 dB atau kurang.
8. Cek report VSWR (cek apakah ada alarm VSWR atau run reportnya)
Cek backhaul capacity apakah linknya dishare antar RAT atau sudah di dimensioning secara baik.

Jadi kita sudah dapat menentukan alasan mengapa low thp pada uplink ini terjadi, bisa disebabkan karena hal-hal sbb 
  • BLER (Bad coverage) : atur tilting antena
  • Uplink Interference (High RSSI) : cek PCI
  • Low Power Headroom : cek perangkat UE, antena port, setting attenuator
  • Scheduling Algorithm : sesuaikan dengan site lainnya
  • Low demand : cek setingan max num rrc conn apakah sudah wajar
  • Others (VSWR, Backhaul Capacity)

Sekian semoga membantu permasalahan uplink low throughput ini.

Kamis, 21 Mei 2015

LTE Random Access Procedure

Sekilas tentang Random Access Procedure (contention based)



Langkah pertama :

  • UE memilih 1 dari 64 RACH preamble yang tersedia  
  • UE harus menginformasikan identitasnya ke jaringan dengan menggunakan RA-RNTI (Random access radio network temporary identity). RA-RNTI ditentukan dari time slot number dimana preamble dikirimkan.
  • Jika UE tidak menerima respon dari enode B, maka yang dilakukannya adalah meningkatkan power secara bertahap dan mengirimkan kembali RACH preamblenya. Ini sama dengan seperti kita memanggil seseorang namun ia tidak menoleh sehingga kita mengeraskan kembali panggilan kita ke orang tsb.

Langkah kedua :
  • enodeB menjawab UE dengan mengirimkan Random Access Response melalui Downlink share channel (DL-SCH) dialamatkan ke RA-RNTI tadi yang dihitung dari timeslot yang disebutkan di langkah pertama tadi yaitu saat preamble dikirimkan.
  • Apa isi message dari respon enode B tsb? isinya adalah 
  1. Temporary C-RNTI : enode B memberikan identitas baru ke UE yang disebut temporary C-RNTI (cell radio network temporary identity) untuk komunikasi lebih lanjut.
  2. Timing Advance Value : enode B juga menginformasikan UE untuk merubah timing-nya sehingga dapat menyesuaikan delay yang diakibatkan karena jarak antar UE dengan enodeB.
  3. Uplink Grant Resource : enode B akan memberikan initial resource ke UE sehingga UE dapat menggunakan UL-SCH (uplink shared channel)

Langkah ketiga :
  • Dengan menggunakan UL-SCH, UE mengirimkan RRC Connection Request message ke enodeB
  • UE diidentfikasi oleh temporary CRNTI (yang sudah diassigned oleh enode B di langkah sebelumnya)
  • Isi message dari UE ke enode B di step ini adalah : 
--UE identity (TMSI atau random value), TMSI digunakan jika UE sebelumnya terkoneksi ke jaringan yang sama, Dengan menggunakan value dari TMSI ini maka UE dapat diidentifikasikan di core network. Random Value digunakan UE ketika pertama kali terhubung ke jaringan. 
--Connection establishment cause

Langkah keempat :
  • enode B menjawab dengan contention resolution message ke UE dimana pesan UE sudah berhasil diterima dengan baik. Pesan itu diteruskan menuju TMSI value atau random number tetapi kali ini mengandung new C-RNTI yang akan digunakan untuk step berikutnya.


note: Contention Base ini adalah protokol di wireless communication yang membolehkan beberapa user menggunakan kanal radio yang sama tanpa pre coordination seperti konsep "listen before talk".

Minggu, 15 Februari 2015

LTE Topic

Waduhhh sudah lama tidak update blog ini, maklum karena kesibukan yang semakin bertambah dari penulis (sok sibuk banget).

LTE (Long Term Evolution) adalah topik yang sedang hangat diperbincangkan saat ini di dunia kerja pertelekomunikasian di Indonesia, terang saja karena berbagai operator telekomunikasi berlomba-lomba untuk mengusung teknologi baru ini. Ada yang sudah launching dan kita bisa lihat iklannya seperti dari operator Telkomsel dan XL.
Di tahun ini pasti operator lainnya akan segera menyusul, mungkin mulai di pertengahan tahun 2015.

Dari sisi planning engineer, nanti akan ada beberapa ilmu LTE yang wajib/mandatory untuk kita ketahui dan kalau sempat mari dibahas satu persatu. Misalnya seperti :

-LTE air interface (PDCCH,PRACH,dll)
-PCI (Physical Cell ID),mod3
-Bandwidth 6 pilihan yang bisa digunakan (1.4 ,  3 , 5 , 10 , 15, 20 MHz)
-TA (Tracking Area)
-SSS
-PSS
-Downlink dan Uplink Reference Signal
-Resource Block (RB)
-Resource Element (RE)
-Cyclic Prefix
-Coverage RSRP, RSRQ, PDSCH (downlink throughput), PUSCH (uplink throughput)
-SINR
-MIMO
-OFDM (for downlink) dan SC-FDMA (in LTE for uplink)  ---> alasan PAPR (Peak to Average Power Ratio)

Belum lagi planning tool yang digunakan seperti Atoll,Unet,Netact,MCP, dll base on vendor.
begitu banyaknya parameter planning untuk dipelajari,,fiuhh mari dipilih saja apa yang perlu kita pelajari terlebih dahulu.

Nah sebenernya banyak ya bahasan LTE ini yang ga kan pernah habisnya ditulis maupun dipelajari, saya sendiri masih belajar memahaminya lebih lanjut lagi, makanya dengan menulisnya di sini pun saya juga sedang melakukan pembelajaran untuk diri sendiri.

 Ok semoga ke depan bisa dibahas lagi yah walau secara acak dari tema yang disebutkan di atas tadi.
Insha Allah bisa melawan rasa ngantuk dan malas di waktu luang hehehe...

 

Selasa, 11 Maret 2014

Apakah MBC itu

MBC apaan sih?
MBC adalah Multiband Cell atau sebutan lainnya common BCCH, atau single BCCH.
Adalah sistem dual band GSM 900 dan 1800 yang hanya menggunakan 1 frekuensi utamanya saja untuk menangani frekuensi BCCH nya, SDCCH nya, PDCH nya, dan TCH nya.
Kita juga mengenal UL (Underlay) dan OL (Overlay) pada sistem MBC ini.

UL untuk band 900 dan OL untuk band 1800. Sehingga dalam sebuah cell memiliki 2 layer UL dan OL.
UL mengcover keseluruhan area yang lebih luas dibandingkan dengan OL nya. Bila tadi UL fungsinya disebutkan untuk BCCH, SDCCH, PDCH dan TCH, maka OL nya fungsinya hanya untuk traffic load atau TCH saja.



Contoh Konfigurasi MBC : 
UL --> 900 (frekuensi BCCH yang dipakai adalah band 900 dan TCHnya juga band 900)
OL --> 1800 ( tidak ada frekuensi BCCH, yang ada adalah kanal trafik atau TCH dengan band 1800)

Mengapa memakai MBC ? :

  • MBC digunakan untuk meningkatkan kapasitas trafik (misal dengan tabel Erlang GOS 2% pada sistem dual BCCH bila diketahui N=6 maka kapasitas trafik sebesar 2.276 kemudian kalikan 2 maka total menjadi 4.55 erlang. Sedangkan pada single band N=12 maka kapasitas trafiknya sebesar 6.615 erlang)
  • Untuk performa radio (keterbatasan BTS power control, DTX, dan Frequency hopping dihilangkan pada sistem MBC, berbeda ketika memakai sistem traditional dual BCCH). 
  • Menyederhanakan struktur jaringan seperti mengurangi jumlah cell, mengurangi jumlah neighbour yang berarti ini meringankan kerja BSC. 
Kelemahan MBC :
Meskipun begitu, sistem ini juga mempunyai kekurangan yaitu optimisasi jaringan yang lebih rumit dan MS tidak bisa camp ke band selain ULnya. 

Fitur / Parameter yang berhubungan dengan UL dan OL : 
- Dynamic Overlaid/Underlaid Subcells (reuse struktur UL dan OL)
- CSYSTYPE (band ULnya)
- LOL (pathloss)
- SCLDSC (Subcell Load Distribution Function)
- TAOL
- SCLDLUL
- SCLDLOL
- CBCH (Cell Broadcast Channel , untuk band BCCH)

Bila suatu operator menerapkan sistem MBC ini lalu di kemudian hari ingin melepaskannya, kira-kira apakah alasannya menurut teman-teman? :)



Rabu, 12 Februari 2014

Buku Telekomunikasi Untuk Fresh Graduate dan Pemula

  Akhirnya terbit juga proyek menulis buku telekomunikasi yang belum tercapai dari setahun lalu. Buku yang berjudul "Ilmu Praktis Radio Network Planning Untuk Pemula & Profesional" ini, ditujukan khusus untuk para mahasiswa telekomunikasi, fresh graduate, beginner engineer hingga intermediate level yang ingin memasuki dan mendalami bidang Radio Network Planning (RNP) atau Radio Network Design (RND). Tidak ditujukan untuk para expert dan bagi yang merasa sudah menguasai semua hal tentang RNP, terlebih yang sudah overseas alias kerja di luar negeri :)


Apa saja sih isi dari buku tersebut?
Dalam buku itu dibahas mengenai : 
  • arsitektur dan dasar-dasar elemen 2G,3G, dan 4G
  • rumus umum yang digunakan pada pengolahan database RNP
  • mapping sites dengan menggunakan Gcell dan Mcom
  • konsep dasar pembuatan database new site
  • bagaimana melakukan frequency planning yang baik
  • pertanyaan dari dasar hingga menengah dalam wawancara kerja / interview yang sering ditanyakan
  • beberapa link budget pada sistem 2G,3G,4G
  • dan elemen dari LTE 4G 
  Berikut adalah sinopsis dari buku ini :
Sebagian dari lulusan teknik elektro telekomunikasi tidak mempunyai gambaran jelas terhadap dunia yang akan digelutinya, sehingga seringkali menganggap remeh teori yang sudah didapat di kelas dan tidak dapat menjawab pertanyaan dengan baik saat interview memasuki dunia kerja.
  Oleh karena itu buku ini memperkenalkan bagian dari Radio Network Planning kepada para mahasiswa teknik telekomunikasi, maupun engineer dari tingkat pemula hingga profesional. Juga dilengkapi dengan pertanyaan wawancara yang sering muncul terutama saat anda ingin memasuki dunia RF Planning.
  Seiring dengan berkembangnya teknologi telekomunikasi di Indonesia dari 2G sampai 4G, maka dibahas pula elemen dasar GSM,LTE, beserta link budget 2G,3G, hingga 4G yang sebaiknya dikuasai oleh seorang engineer Radio Network Planning. Diharapkan buku ini dapat menguatkan kemampuan dasar anda dan memberikan persiapan yang lebih baik untuk menghadapi wawancara kerja.
Bagi yang ingin memesan buku tersebut, silahkan memesannya melalui link ini ---> Pesan Buku
Di sana anda diharuskan untuk register (hanya dibutuhkan nama dan email anda saja) terlebih dahulu sebelum dapat memesannya. Atau jika ingin ebooknya saja yang ekonomis maka dapat langsung memesannya ke saya.
Demikian info bukunya,
Semoga dapat menjadi manfaat bersama..

Selasa, 11 Februari 2014

ARQ dan HARQ di WCDMA

ARQ (Automatic Repeat Request) yang digunakan pada UMTS --> sebuat paket error yang diterima akan dihilangkan dan diminta (request) agar ditransmisikan ulang. Jika transmisi ulang juga mengalami kesalahan, maka pengiriman ulang yang lain akan diminta/request.
Menggunakan HARQ (Hybrid ARQ), paket yang error akan disimpan pada receiver dan transmisi ulang akan diminta. Bahkan jika retransmisi tersebut salah, receiver akan mencoba untuk menggabungan 2 kesalahan paket untuk membuat ulang paket asli/original-nya. Agar lebih mudah dimengerti, berikut adalah penjelasan dalam gambarnya dari wikimedia.


Fractional Load Planning

Keterbatasan operator yang hanya memiliki sedikit alokasi frekuensi, membuat metode frequency load planning ini menjadi begitu penting demi tercapainya efisiensi penggunaan spektrum frekuensi. Frequency load planning meliputi Fractional Load (FLP) dan Reuse Pattern.
Kita lihat Fractional Load dari rumusnya yaitu :
(Erlang(cell) + Active PDCH(cell)) / (8 x jumlah frekuensi cluster)
PDCH adalah Packet Data Channel atau kanal yang digunakan untuk data seperti GPRS,EDGE.
Berarti semakin banyak alokasi frekuensi yang digunakan maka fractional loadnya semakin kecil.

Fractional Load Planning bertindak sebagai cell load sharing dimana sebuah cell dapat mendistribusikan beban trafik/ traffic load kepada neighbournya dalam situasi dimana skenario trafik sangat tinggi. Berapa besarnya trafik yang dapat disebarkan dapat dilakukan dengan dimensioning.
Maksimum Fractional Load dipengaruhi oleh cell plan, speech codec, quality, spektrum yang tersedia, dan fitur equipment.
Batas kapasitas cell memperhitungkan korelasi yang tinggi antara rata-rata maksimum Erlang pada jam sibuk dengan fractional load. Parameter yang berhubungan dengan fractional load pada equipment Ericsson contohnya adalah CLSLEVEL, CLSACC, RHYST, CLSRAMP, CLSTIMEINTERVAL, HOCLSACC.

Fractional Load Planning (FLP) berdasarkan teknik SFH yang memerlukan Hybrid combiner, sedangkan Multiple Reuse Pattern (MRP) berdasarkan teknik Baseband Hopping (BBH). Pada umumnya FLP menggunakan metode pola 1/3 dan 1/1, frekuensi reuse yang lebih ketat.

Sumber Review from Ericsson
Relative Capacity Gain (Erlang) pada gambar diagram di bawah ini :

  • Reference network = jaringan tanpa freq reuse
  • Tight Macro cell = perbanyak jumlah sel makro
  • Tighter Freq Reuse = diagram pertama adalah jaringan MRP memakai EFR (enhanced full rate) , diagram kedua FLP 1/1memakai EFR, dan diagram ketiga adalah FLP 1/1 memakai AMR
  • Multiband = 50% penetrasi terminal dan 100% penetrasi terminal
  • Microcell =1 micro cell setiap 200m, diagram pertama 2 TRX dan kedua adalah 4 TRX per micro cellnya
  • Half Rate = 25% penetrasi terminal dan 100% penetrasi terminal

* catatan dari wiki Enhanced Full Rate or EFR or GSM-EFR or GSM 06.60 is a speech coding standard that was developed in order to improve the quite poor quality of GSM-Full Rate (FR) codec. Working at 12.2 kbit/s the EFR provides wirelike quality in any noise free and background noise conditions
 Adaptive Multi-Rate (AMR or AMR-NB or GSM-AMR) audio codec is an audio data compression scheme optimized for speech coding. AMR speech codec consists of a multi-rate narrowband speech codec, that encodes narrowband (200–3400 Hz) signals at variable bit rates ranging from 4.75 to 12.2 kbit/s with toll quality speech starting at 7.4 kbit/s

 Cost yang lebih rendah dengan tighter frequency reuse :

 

Search Another

Amazone Stores

Blog search